Di mana Tersimpan Kedamaian?
Assalamualaikum WBT...
Alhamdulillah, antara nikmat yang sangat-sangat disyukuri ialah saat Allah SWT gerakkan diri yang penuh kelemahan ini untuk melihat ke dalam hati dengan rasa keinsafan tanpa ada helaian lapisan keegoan yang menghalangi pandangan.
Setiap insan lahirnya dengan jalan kehidupan yang unik dan yang terbaik untuknya.
Namun mampukah diri meraikan keunikan sesama insan, mengukir senyum meski mata hati masih mencari hikmahnya?
Mampukan terus mencari kebaikan dalam cabaran dan takdir yang tersedia?
Mampukah diri menghargai nikmat di hadapan mata, menzahirkan syukur di lidah, hati, dan tindakan?
Teringat satu doa ni:
Nabi Nuh berkata: "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu daripada memohon sesuatu yang aku tidak mempunyai pengetahuan mengenainya (hakikatnya); dan jika Engkau tidak mengampunkan dosaku, dan memberi rahmat kepadaku, nescaya menjadilah aku dari orang-orang yang rugi" - Surah Hud:47
Kisah Nabi Nuh as merayu (merayu nasib anaknya) kepada Allah swt dengan rayuan yang menagih janji, yang pada hematnya belum lagi dipenuhi Allah, sebaik tersedar akan kesilapan terhadap Allah, lalu Nabi Nuh as terus berdoa dengan doa di atas.
Adakalanya dalam kehidupan ini, kita tersilap menilai nikmat dan hikmah yang terbentang di hadapan mata, lalu pada hemat diri, hanya terlihat sisi yang satu lagi, diri tewas dalam menganalisa makna sebenar pada setiap yang hadir dalam perjalanan kehidupan ini.
Semoga Allah SWT hadirkan rasa kesyukuran dengan sekecil-kecil nikmat yang di kurniakan, dan
Lalu saat menanti dengan penuh pengharapan, ungkapkanlah doa Nabi Musa as ini.
......................
Namun, juga tidak di nafikan, adakalanya, saat menanti, kita terlupa untuk hidup didunia sekarang (in the present moment), minda terpenuhi dengan sesuatu yang belum pasti di masa mendatang. A beautiful reminder from Allah SWT, from myself to myself:
"I’d like to be the sort of person who can enjoy things at the time, instead of having to go back in my head and enjoy them. In a simple word, be grateful for what Allah SWT has given me in this present moment; alhamdulillah." - 20 June 2018 - Paris
Dan adakalanya we are too hard on ourselves. Again, a beautiful reminder from Allah SWT, from myself to myself:
"Maybe I made mistakes yesterday, but yesterday's Me is still Me. Today I am who I am with all my faults and my mistakes. Tomorrow I might be a tiny bit wiser and that would be Me too. Those faults and mistakes are what I am, making up the brightest stars in the constellation of my life. I have come to love myself for who I am, for who I was, and for who I hope to become." - 30 Sept 2018 - East Finchley, London
Alhamdulillah, saat menanti adalah saat tarbiyah indah dari Allah SWT, saat menanti sebenarnya Allah SWT tidak pernah biarkan diri bersendirian, Allah SWT hadirkan bantuan dalam pelbagai cara yang tidak tercapai akal, dihadirkan insan-insan yang sangat memahami, menarik semula langkah ke landasan yang diimpikan setiap Muslim, kehidupan penuh ketenangan dan kedamaian di jalan menuju-Nya.
Andai diri diajukan semula soalan ini, "Dimana Tersimpan Kedamaian?" - Jawapannya ada pada hati yang bersandar sepenuhnya pada kekuasaan Allah SWT, bergantung harap sepenuhnya pada Allah SWT. Sebagaimana yang di lalui saudara di bumi Palestin, meski mereka berada di dalam penjara terbesar didunia yang tidak berkunci, ada damai di rasai di sana, kerana hakikatnya, hati mereka bebas bersandar pada kekuasaan Allah SWT (Petikan dari buku Di Sebalik Tembok Yahudi: Ada Damai di Aqsa).
Semoga kedamaian sentisa segar mekar di dalam hati dalam memacu kehidupan menuju Pencipta. Maafkan salah silap saya, dan saya maafkan semua orang.

Comments
Post a Comment